Sosiologi

Teori Konflik Menurut Karl Marx dan Contohnya di Indonesia

Teori konflik menurut Karl Marx menjelaskan tentang keadaan sosial dalam suatu negara yang mengalami konflik akibat persaingan sumber daya yang terbatas. Teori ini merupakan bentuk perlawanan dari paham ekonomi kapitalisme.

Memahami Konsep Teori Konflik Karl Marx

Teori konflik berusaha untuk menjelaskan berbagai fenomena sosial, termasuk perang, revolusi, kemiskinan, diskriminasi, dan kekerasan dalam rumah tangga. Gagasan ini merupakan bagian dari perkembangan mendasar dalam sejarah manusia, seperti demokrasi dan hak-hak sipil. Karl mengemukakan bahwa konflik ini sebagai upaya kapitalistik untuk mengontrol massa yang berlawanan dengan keinginan untuk tatanan sosial.

Prinsip utama teori konflik adalah konsep ketidaksetaraan sosial misalnya dalam pembagian sumber daya. Sehingga menimbulkan konflik di antara kelas sosial ekonomi yang berbeda. Prinsip utama teori konflik Karl Marx yakni menjelaskan banyak jenis konflik masyarakat sepanjang sejarah. Beberapa ilmuan sosial percaya. Penjelasan Marx, bahwa konflik sosial adalah kekuatan yang pada akhirnya mendorong perubahan dan perkembangan dalam masyarakat.

Teori konflik menurut Marx berfokus pada konflik antara dua kelas utama yakni Borjuis dan Proletar. Setiap kelas terdiri dari sekelompok orang yang terikat oleh kepentingan bersama dan tingkat kepemilikan properti tertentu. Marx menjelaskan tentang Borjuis yakni sebuah kelompok yang mewakili anggota masyarakat yang memegang mayoritas kekayaan dan sarana properti kepemilikan seperti perusahaan besar. Dan berikutnya Proletar, yakni kelompok yang dianggap kelas pekerja atau miskin serta membutuhkan lapangan pekerjaan untuk mendapatkan upah hasil mereka bekerja.

Asumsi Teori Konflik Karl Marx

Dalam perkembangannya kini teori konflik memiliki empat asumsi utama yang berguna untuk dipahami antara lain:

Persaingan

Teori konflik percaya bahwa persaingan memiliki sifat konstan di hampir setiap hubungan dan interaksi manusia. Persaingan terjadi sebagai akibat dari kelangkaan sumber daya termasuk sumber daya material, uang, properti, komoditas, dan masih banyak lagi. Sehingga dengan terbatasnya sumber daya tersebut mengakibatkan orang-orang saling bersaing satu sama lain untuk menguasainya. Persaingan ini juga dipengaruhi oleh kepentingan kelompok setiap kelas sosial.

Peristiwa runtuhnya Orde Baru dan lahirnya Reformasi di tahun 1998
Peristiwa runtuhnya Orde Baru dan lahirnya Reformasi di tahun 1998

Revolusi

MengingatĀ  bahwa konflik terjadi antara kelas sosial. Salah satu hasil dari konflik ini adalah peristiwa revolusi. Definisi revolusi sendiri adalah perubahan dalam dinamika kekuatan antar kelompok yang terjadi sebagai hasil adaptasi yang dilakukan secara spontan. Perubahan pada dinamika kekuatan ini sering kali tiba-tiba dan berskala besar bukan secara bertahap. Di Indonesia sendiri terjadi revolusi pada masa reformasi yakni setelah runtuhnya orde baru di masa Presiden Soeharto.

Ketimpangan Struktural

Asumsi penting dari teori konflikĀ  bahwa hubungan manusia dan struktur sosial semuanya mengalami ketimpangan kekuasaan. Dengan cara ini, beberapa individu dan kelompok saling melekat untuk mengembangkan lebih banyak kekuatan dan keuntungan daripada yang lain. Setelah itu, individu dan kelompok yang mendapat manfaat dari struktur masyarakat tertentu cenderung bekerja untuk mempertahankan struktur tersebut sebagai cara untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuasaan mereka. Ketimpangan ini selalu memberikan dampak konflik baru karena tidak ketimpangan tatanan sosial di masyarakat.

Legitimasi Kaum Borjuis

Gambaran kelompok masyarakat borjuis
Gambaran kelompok masyarakat borjuis yang menguasai kepemilikan modal dan properti

Kelompok borjuis, yang memiliki kendali atas alat produksi, menggunakan negara untuk mendapatkan legitimasi dan kepemilikan yang sah. Ini membuat kekuasaan dan kepentingan negara lebih banyak berpihak kepada kelompok borjuis, sehingga kaum proletar atau masyarakat yang lain akan semakin tertindas dan tertekan.

Kondisi ini akan menyebabkan perubahan sosial dan dinamika masyarakat, terutama pada warga miskin dan kecil yang tertindas. Akibatnya, konflik sosial akan muncul dari ketidakseimbangan dan ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat.

Contoh Teori Konflik di Indonesia

Contoh dari Teori Konflik ini sendiri banyak sekali di Indonesia. Namun saya akan memberikan beberapa contoh konflik ini dalam skala nasional yang ada di Indonesia.

Runtuhnya Orde Baru Dan Bangkitnya Reformasi

Masa orde baru memang meninggalkan banyak sejarah bagi negara Indonesia. Perubahan-perubahan dari masa orde baru menuju masa reformasi merupakan bentuk dari teori konflik sendiri. Pada saat itu lapisan masyarakat mulai menuntut keadilan dan perubahan sistem di Indonesia.

(https://kabar24.bisnis.com/read/20180521/15/797421/runtuhnya-rezim-orde-baru-dan-kelahiran-era-reformasi)

Pengesahan RUU Cipta Kerja

Beberapa tahun lalu di Indonesia sendiri mengalami polemik undang-undang cipta kerja atau Omnibuslaw. Undang-undang ini dinilai merugikan para kaum buruh di Indonesia. Mulai dari beberapa pasal tentang penghapusan pesangon hingga dipotongnya waktu cuti para pekerja. Akibat para serikat buruh di Indonesia dengan mahasiswa turun di jalan untuk unjuk rasa menuntut pemerintah untuk tidak mengesahkan undang-undang tersebut.

(https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54431015)

Konflik Tambang Batuan Andesit di Desa Wadas, Purworejo

Konflik ini terjadi antara pemerintah dengan warga Desa Wadas Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo. Pemicu konflik ini dipicu akibat warga menolak adanya penambangan batu kapur di daerah dekat desa tersebut. Warga menilai penambangan tersebut dapat merusak alam dan pencemaran lingkungan. Namun pemerintah malah menurunkan beberapa aparat penegak hukum dan menangkap beberapa warga yang menolak penambangan tersebut.

(https://nasional.kompas.com/read/2022/02/09/18264541/duduk-perkara-konflik-di-desa-wadas-yang-sebabkan-warga-dikepung-dan)

Beberapa Kritik Umum terhadap Teori Konflik

Salah satu kritik umum terhadap teori konflik adalah kegagalan dalam menjelaskan cara interaksi ekonomi dapat saling menguntungkan kelas-kelas berbeda yang terlibat. Misalnya, teori konflik menggambarkan hubungan antara majikan dan karyawan sebagai salah satu konflik, di mana majikan ingin membayar sesedikit mungkin untuk tenaga kerja karyawan, sedangkan karyawan ingin memaksimalkan upah mereka. Namun dalam praktiknya, hubungan antara pekerja dan pemberi kerja sering kali harmonis. Selain itu, lembaga seperti program pensiun dan kompensasi berbasis saham dapat semakin mengaburkan batas antara pekerja dan perusahaan dengan memberi pekerja tambahan saham dalam keberhasilan pemberi kerja mereka.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button