Sosiologi

Sosiologi Islam : Konsep dan Pendekatan

Sosiologi Islam sebagai disiplin keilmuan dalam menganalisis konteks masyarakat di Indonesia belum berakar kuat. Pengenalan kajian sosial berbasiskan Islam dilakukan oleh Kuntowijoyo mengenai Ilmu Sosial Profetik. Dalam konteks Indonesia, persoalan keberagamaan berbanding lurus dengan keberagaman masyarakat Indonesia.

Pengertian Sosiologi Islam

Sosiologi Islam adalah disiplin keilmuan yang membekukan kajiannya di ranah kelompok masyarakat Islam. Kajian ini berupaya memotret kelompok masyarakat Islam yang memiliki sistem budaya kemasyarakatan yang terbangun atas sistem nilai, keyakinan, historis, dan moralitas sendiri. Sosiologi Islam merefleksikan sikap keberagamaan umat Islam di Indonesia yang menunjukkan pola hubungan tiga fase historis dan simbolis dapat disimpulkan menjadi empat hal yakni ketegangan perumusan dasar negara, ketegangan ideologis, kediktatoran negara, dominasi mayoritas. Pola hubungan yang terbentuk menunjukkan bias dari objektivitas dogma agama Islam.

Konsep Sosiologi Islam

Teori-teori sosiologi yang dikembangkan di dunia pendidikan di Indonesia sekarang dibangun atas dasar pengalaman masyarakat Barat. Karena itu sering kali tidak memadai, bahkan menyesatkan, kalau digunakan untuk menjelaskan masyarakat non-Barat, khusunya yang menyangkut Islam dan masyarakat muslim. Teori-teori tersebut menempatkan agama, termasuk Islam, sebagai salah satu saja dari institusi-institusi dalam masyarakat. Padahal bagi kaum muslim menempatkannya ideologi yang menentukan totalitas kehidupan muslim. Oleha karena itulah, kajian sosiologis terhadap konsep-konsep sosiologi dalam Alquran menjadi sangat penting dan merupakan kebutuhan hakiki umat Islam. Setidaknya ada tiga konsep penting dari Alquran yang dapat diasumsikan sebagai teori sosiologi Islam, yaitu tadafu’, ta’aruf dan ta’awun.

Tadafu

Pada derajat atau tataran tertentu, bisa saja kaidah tadafu’ dalam Al-Quran didekatkan dengan teori konflik, khususnya pada tataran aktual. Akan tetapi, pada tataran konsep atau asumsi dasarnya terdapat perbedaan yang prinsipal. Menurut BaYunus, sosiologi Marxian (teori konflik) berlandaskan dua asumsi dasar. Pertama, aktivitas ekonomi dipandang sebagai penentu utama dari seluruh aktivitas sosial. Kedua, masyarakat manusia dipandang sebagai kenyataan konfliktual sepanjang sejarah. Adapun kaidah tadafu’ berlandaskan pada asumsi dasar bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan yang harus mengabdikan totalitas hidupnya kepada-Nya, sehingga seluruh pertimbangan, keputusan dan tindakannya harus diselaraskan dengan ajaran-Nya. Kemudian, tadafu’ atau konflik merupakan proses alamiah (sunnatullah) yang harus dilalui sebagai konsekuensi dari hakikat fitrah manusia yang memiliki kecenderungan dan tanggung jawab untuk membela kebenaran dan keadilan.

Ta’aruf

Konsep ta’aruf menghendaki pengembangan interaksi berdasarkan atas pengetahuan dan pemahaman yang benar untuk menciptakan kebersamaan (bermasyarakat) yang solid dan harmonis. Kebersamaan tersebut tidak berarti meniadakan keunggulan, kelebihan, dan persaingan di dalamnya, terlebih bahwa kebersamaan tersebut berlatar belakang dari berbagai perbedaan. Keunggulan, kelebihan dan persaingan yang ada tetap diberi tempat untuk berkembang dengan syarat bernaung di bawah nilai ketakwaan.

Ta’awun

berikutnya konsep Ta’awun  yang diangkat dari QS Al-Mâ’idah ayat kedua yang berbunyi. “Saling tolong menolonglah dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”. Konsep ini mengakui adanya perbedaan sekaligus mengakui bahwa setiap (individu) memiliki potensi dan kekuatan, sekecil apapun adanya. Konsep ini menghendaki agar perbedaan potensi dan kekuatan (keunggulan, kelemahan, kaya, miskin, dan lain sebagainya) fungsional secara positif dalam membangun kehidupan bersama yang harmonis.

Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam

Pendekatan sosiologi dalam studi Islam, kegunaannya sebagai metodologi untuk memahami corak dan stratifikasi dalam suatu kelompok masyarakat, yaitu dalam dunia ilmu pengetahuan, makna dari istilah pendekatan sama dengan metodologi, yaitu sudut pandang atau cara melihat atau memperlakukan sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang dikaji. Selain itu, makna metodologi juga mencakup berbagai teknik yang digunakan untuk memperlakukan penelitian atau pengumpulan data sesuai dengan cara melihat dan memperlakukan sesuatu permasalahan atau teknik-teknik penelitian yang sesuai dengan pendekatan tersebut.

Pada akhirnya sosiologi islam dapat memberikan sudut pandang berbeda dengan sosiologi barat seperti Max Weber, Karl Marx, Emile Durkhiem, dan lain-lain. Perspektif berbeda dapat juga memberikan warna dalam ilmu sosial. Semoga artikel ini dapat membantu dalam kalian belajar sekian dan terima kasih.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button