Opini

Metodologi Ilmu Politik Behavioral

Analisa Gejala Politik Pembubaran FPI oleh Pemerintah

Front Pembela Islam atau FPI tengah menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat. Berita ini tentunya menjadi populer selepas kepulangan kuncinya, Rizieq Shihab ke tanah air dan keputusan akan pembubarannya. FPI telah dinyatakan bubar oleh pemerintah setelah dikeluarkannya SKB atau Surat Keputusan Bersama dari pihak pemerintah. Pembubaran FPI di dasari atas segudang aksi kontroversial yang dinilai merugikan warga. Selain itu, paham-paham radikalis juga menjadi keresahan pemerintah dan masyarakat akan adanya pergeseran ideologi dan paham baru yang timbul di tengah-tengah publik. Dalam tulisan ini, saya akan berusaha untuk menuliskan gagasan saya mengenai gejala dan dampak dari pembubaran FPI dinilai dari sudut pandang sosial-politik.

FPI bukan menjadi hal yang awam bagi masyarakat, apalagi pemerhati komunitas dan politik. Sejak tahun 1998, FPI terus melancarkan agenda dan kepentingannya di ranah publik. Bersama Rizieq Shihab sebagai junjungannya, banyak sekali yang telah mengalir dari perjalanan FPI di tengah masyarakat. Mereka terus menggemakan segala keagungan, kelebihan, dan rencana besarnya. Membumikan paham islam dan terus menggaungkan upaya menegakkan negara islam di bumi pertiwi. Anggapan bahwa ini menjadi bukti nasionalisme dan kepentingan bangsa terus disampaikan. Membutakan argumen dengan menganggap islam adalah satu-satunya agama paling benar di Indonesia, mengesampingkan keyakinan lain yang jelas diakui dalam undang-undang.

Full Text Bisa kalian unduh di bawah ini :

UAS MIP Perspektif Behavioralis

 

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button