Opini

Memahami Gendered Citizenship

Gambaran Ideal dan Kenyataan Gendered Citizenship

Citizenship dapat dipahami sebagai konsep legal dan konsep politik. Sebagai konsep legal, maknanya biasanya adalah keanggotaan utuh di suatu negara dan ikatan pada hukum serta menjadi subjek kekuasaan negara. Maknanya di dalam negara adalah mendefinisikan hak dan kewajiban dari warga negara. Sebagai konsep politik, kewarganegaraan terkait dengan demokrasi, terdiri atas status kesetaraan kebabasan politik dan self-determanitation; kesetaraan hak dan kewajiban dan afiliasi pada suatu komunitas politik.

Pengalaman Rwanda

Kemerdekaan Rwanda dari Belgia mewarisi prasangka antara dua kelompok etnis yang meninggali batas-batas negara Rwanda. Akibat prasangka ini, terbentuklah diskriminasi terstruktur yang berlangsung dalam waktu lama dan memicu konflik antara masyarakat dan pemerintah yang dikuasi oleh etnis Hutu. Perempuan memiliki posisi yang sangat lemah dalam hukum Rwanda pasca kemerdekaan. Secara legal, mereka tidak punya hak bekerja, akses kredit, tidak diperbolehkan membuat kontrak tanpa izin suami, tidak bisa menggunakan hak hukum di pengadilan. Hukum adat lebih mendominasi dalam aturan kepemilikan tanah. Di sini perempuan mengalami diskriminasi karena mereka tidak memiliki hak waris, yang berdampak pada akses mereka pada pinjaman. Di samping itu terdapat kebiasaan poligami yang makin melemahkan posisi perempuan karena hukum Rwanda hanya membolehkan laki-laki menikah dengan satu istri, sehingga terdapat istri-istri “tidak sah”. Semenjak kemerdekaan Rwanda, telah terjadi kekerasan politik di bawah pemerintahan yang didominasi etnis Hutu dan perang sipil akhirnya pecah di tahun 1990-an. Konflik memuncak pada peristiwa Genosida tahun 1994 terhadap masyarakat etnis Tutsi maupun etnis Hutu yang cenderung moderat. Genosida ini disertai dengan berbagai bentuk kekerasan seksual. Perkiraan yang ada, korban meninggal dari kalangan Tutsi dan Hutu Moderat adalah sekitar 800.000 jiwa dan sekitar 250.000 hingga 500.000 menjadi korban pemerkosaan dan sebanyak dua juta orang mengungsi.

Pengalaman Timor Leste

Permasalahan ketidakadilan gender di Timor Leste berakar baik dari penjajahan Portugis, pendudukan Indonesia dan dalam tatanan sosial masyarakat sendiri. Pemerintahan kolonial Portugis memengaruhi bentuk relasi gender dengan menerapkan peraturan dan nilai yang menempatkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga, menjadikan masyarakat berkarakter patriarkis. Di dalam periode ini juga, akses pendidikan lebih banyak diakses lakilaki ketimbang perempuan. Sementara itu di dalam perjuangan kemerdekaan, perempuan dilibatkan dengan dibentuknya Organisasi Perempuan Timor Leste (OPMT) sebagai bagian dari gerakan revolusi Frente Revoluciona´ria de Timor-Leste Independente atau Fretilin.  Selama masa pendudukan Indonesia, banyak terjadi kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste (CAVR) dibentuk tahun 2001 dan dibubarkan tahun 2005. CAVR melakukan delapan dengar kesaksian nasional, 52 dengar kesaksian lokal, dan mengumpulkan pernyataan dari 7.699 korban, saksi dan pelaku selama masa tugasnya (ICTJ, 23/2/2016).

Pengalaman Aceh

Konflik kekerasan di Aceh merupakan konflik antara Tentara Nasional Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama, yakni selama 29 tahun. Sejak tahun 1989, pemerintahan memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Kemudian, pada tahun 1998, Presiden Habibie mengakhiri DOM ini. Pasca berakhirnya konflik ini, perempuan mengalami berbagai bentuk permasalahan termasuk trauma akibat penyiksaan atau kehilangan orang terdekatnya, tidak mendapat akses pada layanan sosial hingga kesulitan mendapat pekerjaan akibat pendidikan yang rendah. Di samping itu, terdapat pula peningkatan kekerasan dalam rumah tangga, termasuk kekerasan seksual. Presiden Baharoedin Joesoef Habibie telah meminta maaf kepada rakyat Aceh atas kekerasan yang terjadi dan melalui Undang-Undang No. 44 tahun 1999 mengatur mengenai kestimewaan Aceh.

Sumber : Book Chapter PPGAPM

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Back to top button