Opini

Krisis Kebudayaan Lokal Di Purwokerto

Krisis kebudayaan lokal di Purwokerto kini mulai sangat terasa di daerah-daerah kampus. Apalagi dengan adanya banyak kampus-kampus di daerah Purwokerto membuat banyak orang luar daerah merantau sebagai mahasiswa di situ. Salah satu orang luar daerah adalah Jabodetabek yang identik dengan bahasa Lo dan Gue. Dalam artikel ini saya akan memberikan uraian serta opini saya terhadap kebudayaan warga Ngapak di Purwokerto.

Pengertian Krisis Kebudayaan

Krisis kebudayaan terdiri dari 2 kata yakni krisis dan kebudayaan. Krisis yang saya maksud disini adalah suatu keadaan yang tidak stabil dimana ada hal menyebabkan perubahan pada masyarakat. Sedangkan kebudayaan di sini adalah warisan tradisi turun temurun yang menjadi identitas masyakarakat tersebut. Jika dikutip dari Kamus besar bahasa Indonesia, definisi dari krisis kebudayaan adalah keadaan suatu kebudayaan tidak mampu lagi mencari jalan keluar dari kesulitan yang melibatnya. Oleh karena itu saya menggunakan kata krisis kebudayaan untuk mendefinisikan yang sedang dialami oleh masyakarakat di kota Purwokerto. Dimana para warga dengan kebudayaan bahasa ngapak menjadi terkikis karena banyaknya orang-orang yang dari luar daerah.

Penyebab Krisis Kebudayaan Lokal di Kota Purwokerto

Krisis kebudayaan lokal yang terjadi di kota Purwokerto memiliki banyak penyebabnya. Seperti banyak masuknya budaya, kepekaan masyarakat, dan komersialisasi pendidikan. Dari setiap tersebut memiliki dampaknya masing-masing yang saya jelaskan sebagai berikut.

Banyak Masuknya Budaya Luar Daerah

Orang-orang luar daerah yang merantau untuk berkuliah di kota Purwokerto menjadi penyebab pertama dalam krisis kebudayaan. Di kota Purwokerto sendiri terdapat banyak kampus seperti, Unsoed, Unwiku, UMP, UIN Saizu, ITTP, dan lain-lain. Salah satu orang luar daerah yang membawa budaya mereka adalah Jabodetabek, dengan bahasa yang identik dengan kata Lo dan Guen memberikan warna berbeda di kota Purwokerto. Kalian bisa mendengar ketika berada di warung makan, cafe, kontrakan, maupun di kampusnya itu sendiri. Kebudayaan tersebut datang dan menggeser primordialisme  yang dimiliki masyarakat Purwokerto.

Kepekaan Masyarakat

Selain masyarakat luar daerah yang enggan beradaptasi dengan dengan kebudayaan lokal khas Banyumas. Kurangnya kepekaan masyarakat terhadap budayanya sendiri mengakibatkan mudahnya perubahan budaya asli yang dimiliki masyarakat Purwokerto. Hal tersebut mengakibatkan para mahasiswa asli daerah itu menghilang identitas budayanya dan cenderung mengikuti budaya lain dari luar daerah. Dari pengalaman pribadi saya pernah mendengar percakapan di tempat umum yang menggunakan 2 bahasa yakni bahasa ngapak dan bahasa lo gue ala orang Jabodetabek. Saya ingat orang tersebut mengatakan kepada temannya “ bar kie lo mau kemana?”.  Selain itu saya juga pernah mendengar kalimat Gue be iya. Disitu saya berfikir dampak krisis budaya sendiri memang sangat besar apabila masyarakat aslinya saja tidak memiliki kepekaan terhadap budaya yang menjadi identitasnya.

Komersialisasi Pendidikan

Faktor penyebab krisis kebudayaan lokal di kota Purwokerto yang berikutnya adalah komersialisasi pendidikan. Pembangunan kost-kostan elit, cafe, dan sejumlah restoran mahal juga menyebabkan sifat konsumtif bagi para mahasiswanya. Selain menciptakan sifat individualis yang tinggi dengan adanya komersialisasi pendidikan menutup ruang warga lokal yang ingin memperluas jaringan ekonomi mereka. Tentu hal ini harus menjadi kajian tersendiri untuk mencari solusi yang tepat bagi masyarakat Purwokerto asli.

Closing Statement

Pada akhirnya krisis kebudayaan lokal di kota Purwokerto harus menjadi perhatian kita semua yang berada di daerah tersebut. Semua elemen yang terlibat harus menciptakan keseimbangan di segala aspek kehidupan. Saya menulis artikel ini bukan bermaksud untuk menyinggung orang luar daerah Purwokerto maupun orang Purwokerto asli. Namun hal ini harus menjadi renungan kita semua agar tidak menyebabkan krisis kebudayaan ini makin berdampak bagi orang-orang Purwokerto asli. Kita juga harus bisa menciptakan lingkungan yang saling bersinergi dan berkesinambungan satu sama lain baik orang luar daerah ataupun orang lokal itu sendiri. Saya mengajak kalian semua sebagai mahasiswa yang juga berkuliah di Purwokerto untuk lebih peka dan sadar akan kebudayaan Banyumasan. Salam dari orang Ngapak, Ora Ngapak Ora Kepenak. Terima kasih dan sampai jumpa di postingan berikutnya.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button