Ilmu Politik

Konflik Dan Konsensus Dalam Ilmu Politik

Konflik dan Konsensus merupakan mata kuliah dalam perkuliahan ilmu politik. saya disini akan menjelaskan berbagai materi yang pernah saya dapatkan selama kuliah. Simak terus materinya karena jika kalian tidak paham dengan penjelasan saat kuliah, Kalian bisa membaca artikel ini untuk menambah refrensi kalian, dan berikut materi konflik dan konsensus.

Pengertian Konflik dan Konsensus Dalam Ilmu Politik

Konflik merupakan perselisihan antara individu ataupun kelompok. Jika didalam ilmu politik konflik disebabkan oleh berbagai macam hal mulai dari suatu interst atau sumber daya hingga kepentingan. Sedangkan konsensus adalah cara penyelesaian konflik atau mencari titik temu diantara perselisihan. Hal ini bisa digambarkan seperti air dan minyak karena sifatnya yang bertolak belakang satu sama lain.

Teori Konflik Dari Para Ahli

Teori Konflik : Karl Marx

Marx mengatakan bahwa potensi-potensi konflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise/status dan kekuasaan politik. Segi-segi pemikiran filosofis. Marx berpusat pada usaha untuk membuka kedok sistem nilai masyarakat, pola kepercayaan dan bentuk kesadaran sebagai ideologi yang mencerminkan dan memperkuat kepentingan kelas yang berkuasa.

Meskipun dalam pandangannya, orientasi budaya tidak seluruhnya ditentukan oleh struktur kelas ekonomi, orientasi tersebut sangat dipengaruhi dan dipaksa oleh struktur tersebut. Tekanan Marx pada pentingnya kondisi materiil seperti terlihat dalam struktur masyarakat, membatasi pengaruh budaya terhadap kesadaran individu para pelakunya. Marx lebih cenderung melihat nilai dan norma budaya sebagai ideologi yang mencerminkan usaha kelompok-kelompok dominan untuk membenarkan berlangsungnya dominasi mereka.

Pada dasarnya, konsep ini menunjuk pada perasaan dan keterasingan, khususnya yang timbul dari tidak adanya kontrol dari seseorang atas kondisi kehidupannya sendiri. Marx menyatakan ada empat tipe alienasi : alienasi dari proses produksi, dari produk yang dihasilkan oleh kegiatan individu, dari manusia lainnya, dan dari dirinya sendiri.

Ada bebrapa unsur dari teori Marx yang perlu diperhatikan (Hakimul Ikhwan, 2004) :

  1. Besarnya peran segi kultural dibandingkan segi kesadaran dan moralitas.
  2. Pentingnya kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas buruh (Proletar) secara objektif.
  3. Bertentangan dan mempunyai sikap berbeda terhadap perubahan sosial.
  4. Setiap kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat dicapai melalui revolusi.

Teori Konflik : Max Weber

Konflik muncul terutama dalam wilayah politik yang dalam kelompok sosial adalah kelompok-kelompok kekuasaan, seperti partai politik. Weber melihat persoalan wewenang dalam kerangka politik diperebutkan oleh partai-partai. Pengaruh pemikiran.

 

Teori Konflik : Maurice Devurger

Menurut Duverger, konflik politik dapat disebabkan oleh dua hal yaitu sebab individual dan sebab-sebab kolektif. Faktor yang disebabkan oleh sifat-sifat pribadi, menurut Duverger sangat dipengaruhi oleh adanya karakteristik kejiwaan yang dimiliki oleh individu. Duverger membagikan faktor penyebab individu dengan sebab-sebab secara psikologis.

Sementara Duverger juga mengatakan bahwa faktor kolektif terdiri dari tiga hal pertama, perjuangan kelas, isu rasial, konflik antara kelompok horizontal. Duverger melihat bahwa konflik politik dapat disebabkan oleh bakat-bakat individu yang menyebabkan konflik tersebut menjadi konflik kelompok. Dalam hal ini Duverger menyorot bahwa sifat-sifat pribadi seseorang sangat berpengaruh dalam menimbulkan konflik politik bila orang tersebut memiliki kharismatik dan pengaruh yang besar terhadap kelompoknya.

Sebab-sebab kolektif menurut Duverger adalah penyebab konflik yang terbentuk oleh kelompok sebagai hasil dari interaksi sosial antara anggota-anggota kelompok. Penyebab konflik ini dihasilkan oleh adanya tantangan dan masalah yang berasal dari luar yang dianggap mengancam kelompok.

Adanya tekanan dari pihak lain yang membuat sebuah kelompok terancam eksistensinya dapat menimbulkan keinginan kelompok yang terancam untuk membela diri dan terlibat koonflik dengan kelompok yang menekan. Di samping itu, sebab kolektif ini juga dapat berupa munculnya keinginan dari anggota-anggota kelompok untuk memajukan kelompok dan memperbaiki posisi kelompok itu di dalam masyarakat.

 

Teori Konflik : Geertz

Clifford Geertz mengatakan bahwa sebab-sebab konflik politik disebabkan oleh ikatan primordialisme yang mengalami percampur adukkan antara kesetiaan politik dengan kesetiaan primordial. Solidaritas kelompok menurut Geertz sangat mempengaruhi konflik politik dapat berkembang. Geertz mengatakan bahwa sumber solidaritas kelompok adalah ikatan-ikatan primordial yang menjadi perekat kelompok primordial bersangkutan. Ikatan primordial inilah yang melahirkan sentimen primordial dan kesetiaan primordial.

Teori Konflik : Scoot

Scott memberikan definisi kelompok patron-klien sebagai hubungan dyadic (dua orang) yang terdiri dari seseorang dengan status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) yang menggunakan pengaruh dan sumber-sumber kebutuhan hidup (resources) yang dimilikinya untuk memberi perlindungan dan keuntungan untuk orang lain (klien) yang membalasnya dengan memberikan dukungan dan bantuan termasuk pelayanan pribadi bagi patron.

Dengan adanya patron-klien ini maka konflik yang terjadi kemungkinan besar hanya dikarenakan sang klien yang membela patronnya (bagaimanapun posisi patron pada saat itu, benar atau salah) dan bukan karena alasan yang lebih rasional. Secara definitif, patronase merupakan suatu tipe hubungan pertukaran barang dan jasa secara timbal balik antara dua orang atau banyak orang berdasarkan kepentingan tunggal atau banyak.

Patron sebagai pihak yang memiliki kemampuan dan sumber daya yang lebih besar cenderung lebih banyak menawarkan satuan barang dan jasa pada klien. Sementara klien tidak selamanya mampu membalas satuan barang tersebut secara seimbang. Ketidakmampuan ini menimbulkan rasa hutang budi pada klien, sehingga tercipta struktur ketergantungan yang tidak saja terbatas pada hubungan produksi tapi dapat meluas pada kehidupan sosial lainnya.

 

Teori Konflik : Lewis A. Coser

Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.

Menurut Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Konflik Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan- tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan.
  2. Konflik Non- Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak.

Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi.

Teori Konflik : Ralf Dahrendorf

Ralf dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerja sama. Teori konflik Ralf Dahrendorf merupakan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx. Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan kontrol sarana-sarana berada dalam satu individu-individu yang sama.

Menurut Dahrendorf tidak selalu pemilik sarana- sarana juga bertugas sebagai pengontrol apalagi pada abad kesembilan belas. Bentuk penolakan tersebut ia tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi di masyarakat industri semenjak abad kesembilan belas. Seperti halnya, dekomposisi modal, dekomposisi tenaga kerja, dan timbulnya kelas menengah baru.

Teori konflik Dahrendorf yang disebut Teori Konflik Dialektika adalah memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromikompromi yang berbeda dengan kondisi semula.

Asumsi dasar Teori Konflik Dialektika :

  1. Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat
  2. Konflik dalah gejala yang melekat pada setiap masyarakat
  3. Setiap unsur didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial
  4. Setiap masyarakat terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang atas sejumlah orang-orang yang lain

Dalam pandangan Teori Konflik Dialektika melihat kekuasaan (power) dan otoritas (authority) merupakan sumber yang langka dan selalu diperebutkan dalam sebuah imperatively coordinated associations.

Teori Berbagai Penyebab Konflik

  1. Teori Hubungan Masyarakat menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.
  2. Teori Negosiasi Prinsip menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.
  3. Teori Kebutuhan Manusia berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia fisik, mental, dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan. identitas. pengakuan. partisipasi, dan otonomi sering merupakan inti pembicaraan.
  4. Teori Identitas berasumsi bahwa konflik disebabkan karena identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan.
  5. Teori Kesalahpahaman Antarbudaya berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.
  6. Teori Transformasi Konflik berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi.

Tipe-Tipe  Konsensus

Negosiasi

Negosisasi merupakan suatu kesediaan semua pihak yang terlibat dalam konflik guna mengurangi tuntutannya sendiri dan menerima bagian-bagian tertentu dari tuntutan pihak lain.

 Konsiliasi

Konsiliasi adalah suatu bentuk penyelesaian konflik melalui lembaga-lembaga tertentu sebgai wakil dalam menyelesaikan konflik

  Mediasi

Mediasi adalah bentuk penyelesaian konflik dengan cara duduk bersama untuk memberi nasehat-nasehat bagaimana menyelesaikan konflik.

Perwasitan

Perwasitan merupakan suatu bentuk penyelesaian konflik, apabila pihak-pihak yang berkonflik berkesempatan untuk menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan guna menyeleseaikan konflik.

 Voting

Voting adalah  bentuk penyelsaian konflik  dengan cara pemungutan suara dengan berdasarkan suara terbanyak. Bagi yang memperoleh suara terbanyak menjadi pendapat bersama, sehingga perbedaan pendapat dapat diselesaikan.  Model ini pada umumnya digunakan  untuk menyelsaikan konflik politik.

Ya sekian materi konflik dan konsensus, semoga kalian dapat memahami materi ini. Materi konflik dan konsensus merupakan materi penting dalam perkuliahan ilmu politik. Sekian materi yang bisa saya sampaikan sampai jumpa di postingan berikutnya sekian dan terima kasih.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button