Opini

Mari Kenali Toxic Masculinity Dalam Kehidupan Sosial

Toxic Masculinity adalah ungkapan yang mengacu kepada perilaku sesorang menekan seorang pria dalam kehidupan sosial. Sedangkan menurut Terry Kupers Toxic Masculinity merujuk kepada suatu sifat sosial yang mendorong seorang laki-laki untuk mendominasikan sifat maskulinnya. Sebelum kita  ke topik ini lebih dalam, saya pikir penting bagi kita untuk mengetahui bahwa maskulinitas dan feminitas bukanlah biologis, itu adalah hasil dari norma masyarakat selama ribuan tahun yang lalu.

Komponen Inti dari Toxic Maskulinity

Kekuatan

Persepsi bahwa pria harus kuat secara fisik, tidak berperasaan secara emosional, dan agresif secara perilaku. Ketika seorang pria dituntut untuk memiliki kekuatan lebih dari yang dia miliki.

Antifeminitas

Persepsi bahwa pria harus menolak apa pun yang dianggap feminin, seperti menunjukkan emosi atau menerima bantuan. Persepsi ini juga membuat stigma bahwa lelaki yang meminta pertolongan bisa dianggap remeh oleh orang lain.

Kekuasaan

Asumsi bahwa laki-laki harus bekerja untuk memperoleh kekuasaan dan status (sosial dan keuangan) sehingga mereka dapat memperoleh rasa hormat dari orang lain. Jika belum sukses maka masih diremehkan dan tidak dihargai.

Contoh Toxic Masculinity di Kehidupan Sosial

Beberapa contoh toxic Masculinity antara lain. Seorang anak laki-laki yang di buly teman-temannya karena kepribadian dia feminis. Berikutnya Sebuah organisasi membedakan porsi kerjanya antara laki-laki dan perempuan. Lalu Ketika seorang pria dianggap rendah apabila tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dan menuntut seorang pria untuk lebih mendominasi disegala hal.

Dampak Dari Toxic Masculinity

Dalam kehidupan sosial Toxic Masculinity menurunkan budaya buruk dimana anggapan self-care hanya untuk peremupan saja sedangkan pria tidak memperdulikan dirinya dan terus ditekan layaknya mesin, tetap dipaksa bekerja walau sedang sakit, dan ditekan melebihi kapasitasnya.

Selain itu juga dapat menyebabkan seorang pria enggan kedokter ketika dia sakit. Daniel Coleman seorang psikolog asal amerika mengatakan stereotip kata “tangguh” yang mengarah pada maskulinitas menjadi salah satu alasan kenapa pria lebih memilih bunuh diri karena depresi.

Baca Juga : Pelecehan Seksual di Lingkungan Kampus

Tips Mencegah Toxic Masculinity

  1. Menjelaskan perbedaan dari Toxic Masculinity dan Masculinity

Jelaskan kepada mereka perbedaan dari toxic masculinity dan maskulin. Kedua hal ini sangat berbeda satu sama lain. Mulailah menjelaskan kepada mereka bahwa tidak semua pria itu harus maskulin tidak semua orang pria harus mendominasi, kuat, dan agresif. tetepi seorang pria juga dapat bersikap lembut.

  1. Mulailah Dialog Bersama Orang Terdekat

Saat kalian mengalami hal ini di lingkungan anda. Kalian bisa membicarakan kejadian yang kalian alami kepada orang terdekat. tujuannya agar perasaan kalian bisa lebih baik serta mencari solusi bersama orang terdekat kalian.

  1. Ubahlah stigma tentang Toxic Masculinity

Renungkan dalam diri anda apakah anda sudah merubah stigma Masculinity dalam diri anda. Apakah anda sudah melakukan self-love pada diri anda. Setelah itu kenalkan kepada lingkungan yang mendukung diri anda agar tidak mengalaminya lagi.

Pada akhirnya hal buruk memang susah untuk dihilangkan. Saya sebagai penulis juga pernah merasakannya. Ketika di bus dan ada seorang wanita meminta tempat duduk yang kita punya dengan alasan pria harus lebih mengalah kepada wanita, karena memiliki fisik lebih lemah dibanding pria. Tentu hal ini sangat tidak menyenangkan jika terjadi di tempat umum. Dapat kita simpulkan bahwa toxic masculinity memang berdampak besar bagi laki-laki. Seorang laki-laki memang harus maskulin tapi tidak harus sampai menekan dirinya lebih dari batas kemampuannya.

 

Related Articles

Back to top button