Opini

Industrialisasi Berdampak Kesenjangan Sosial di Purbalingga

Industrialisasi adalah proses mengubah ekonomi suatu negara atau wilayah dari fokus pada pertanian menjadi ketergantungan pada manufaktur. Metode produksi massal mekanis merupakan komponen penting dari transisi ini. Karakteristik dari industrialisasi meliputi pertumbuhan ekonomi, pembagian kerja yang lebih efisien, dan percepatan pertumbuhan dalam inovasi teknologi.

Tenaga Kerja Wanita dan Kesetaraan Gender

Zaman modern menuntut akan adanya kesetaraan gender. Dalam ranah ketenagakerjaan, wanita berhak mendapatkan posisinya di lingkungan pekerjaan. Saat ini, gender bukanlah penghalang untuk semua orang untuk meraih apapun. Seiring dengan agenda pembangunan, manusia semakin cerdas dan sadar pluralisme, tidak lagi ketergantungan dengan diferensiasi yang berarti secara bijaksana dalam memilah. Pembangunan menjadi usaha untuk mengubah keadaan tertentu menjadi lebih baik. Kondisi gender yang setara menjadi kepentingan pembangunan karena pembangunan semestinya meningkatkan harkat dan martabat tanpa perbedaan. Dengan pembangunan, manusia semakin sadar akan hak individu dan kelompoknya.

Elson dan Pearson (1984) menyatakan bahwa penggunaan tenaga kerja wanita untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu sesungguhnya adalah strategi pengusaha untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah. Menurut Manning (1980), ada dua keuntungan yang diperoleh pengusaha. Pertama, kaum wanita lebih telaten dan lebih penurut sehingga tidak banyak menimbulkan kesulitan dalam menerapakan langkah kebijaksanaan perusahaan. Kedua, angkatan kerja wanita sangat banyak dari segi upah relatif lebih murah daripada kaum pria sehingga karenanya dapat menekan biaya produksi.

Perspektif Wanita Sebagai Pekerja di Purbalingga

Mindset wanita itu lemah menciptakan banyak perspektif di masyarakat. Secara naluri, kita memaklumi akan beratnya hidup dan pemenuhannya ada di pundak pria. Pola pikir seperti ini menciptakan perpepsi baru mengenai kesetaraan gender. Tidak sedikit masyarakat yang mendukung kampanye kesetaraan gender, mengingat banyaknya kasus pelecehan serta pencemaran kepada kaum perempuan. Soal kehidupan wanita berhak mengatur dan memiliki andil, terlebih mengenai ekonomi. Modern ini, kita mengenai adanya wanita karir. Mereka bekerja selayaknya pria yang bekerja. Pekerja wanita menajdi salah satu bukti bahwa selain bekerja di sektor privat, perempuan juga bisa bekerja di sektor publik seperti halnya pria.

Kesenjangan Sosial Akibat Industrialisasi

Persoalan pekerja wanita menjadi pembahasan menarik apabila kita melihat salah satu daerah di Indonesia. Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu daerah industri penghasil dan penyerap kerja wanita di Indonesia, dan terbanyak di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan menjamurnya industri-industri olahan rambut yang lebih membutuhkan kejelian dan ketelatenan dari pekerja wanita. Pada tahun 2015, jumlah tenaga kerja di bidang industri rambut dan bulu mata palsu mencapai 33.417 jiwa dari total tenaga kerja di Kabupaten Purbalingga sebanyak 43.842 jiwa, yang berarti industri rambut dan bulu mata palsu menyerap tenaga kerja lebih dari 50 persen dari total pekerjaan yang ada di Kabupaten Purbalingga.

Kebijakan Pemerintah Purbalingga yang pro investasi mendorong kran investor masuk ke Purbalingga. Salah satunya adalah perusahaan-perusahaan olahan rambut. Rambut palsu dan bulu mata menjadi komoditas tertinggi yang dimiliki Purbalingga setelah beberapa produk lokal yang ada seperti industri rambut dan bulu mata serta industri knalpot. Kerjasama investor asing dengan penduduk lokal membuahkan pengetahuan baru mengenai lingkungan kerja bagi masyarakat Purbalingga. Namun, dibalik itu kita tidak bisa melepaskan diri dari segala dampak dan kekurangannya. Karena sebagian besar tenaga kerja yang dibutuhkan industri rambut adalah wanita, lapangan kerja bagi tenaga pria di Purbalingga cenderung kalah saing. Banyak dari penduduk lokal pria yang merantau dan memutuskan hidup di tanah rantauan. Walaupun lebih dari 80% jumlah angkatan kerja diduduki oleh tenaga kerja pria, persentase lapangan kerja dan peluang kerja masih dipegang oleh wanita Ekonomi memang naik, tetapi keresahan masih terus ada.

Dampak Industrialisasi Di Purbalingga

Dampak yang dirasakan oleh masyarakat Purbalingga dengan adanya kesenjangan jumlah peluang kerja ini sangatlah beragam. Seperti adanya perubahan struktur fungsional dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena sosok ibu diharuskan untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Minimnya lapangan kerja pria di dalam daerah, memaksakan wanita untuk mengambil peran laki-laki (suami) untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sementara pekerjaan domestik mau tidak mau dilakukan oleh laki-laki. Fenomena ini terkenal dengan sebutan “Pamong Praja” alias papa momong, mama kerja. Dari sebutan tersebut, tersirat keprihatinan mengenai kodrat pria dalam keluarga.

Dari kasus ini, terdapat relasi kuasa yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam kaitannya struktur rumah tangga yang semestinya. Adanya dominasi pekerjaan oleh perempuan menyebabkan kesenjangan lapangan kerja di kalangan masyarakat Purbalingga. Industrialisasi di Purbalingga bukan menjadi hal yang salah, namun Menimbulkan beberapa persoalan khususnya pada relasi sosial. Ekonomi menjadi pertimbangan utama sehingga terdapat asumsi konstruksional gender yang menjadi pembahasan yang hangat. Dari ini, peneliti menjabarkan lebih lanjut tentang tentang fenomena pamong praja dalam industrialisasi di Kabupaten Purbalingga. Peneliti berupaya untuk memberikan pandangan yang realistis dan rasional dalam pemecahan masalah ini dengan berbagai solusi yang juga ramai diperbincangkan oleh warga lokal. Dalam menciptakan tulisan ini, peneliti memertimbangkan banyak hal dengan memastikan kondisi wilayah yang bersangkutan.

Pada akhirnya fenomena kesenjangan sosial di Kabupaten Purbalingga memberikan dampak besar mulai dari sosial dan ekonomi di tengah masyarakat. Semoga artikel ini memberikan tambahan wawasan bagi kalian. Sampai jumpa di artikel berikutnya, sekian dan terima kasih.

Related Articles

Back to top button